Surabaya, – Bencana banjir yang melanda Aceh dan Sumatra memunculkan beragam opini, termasuk wacana penetapan status bencana nasional. Salah satu opini datang dari Ketua Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik DRPM-ITS, Arman Hakim Nasution. Ia menilai status bencana nasional tersebut memiliki konsekuensi pada masuknya tim asing dan donasi internasional secara bebas, dengan alasan kemanusiaan.
Arman mengingatkan, Indonesia harus belajar dari kasus Tsunami Aceh 2004, ternyata bantuan Internasional memiliki tujuan-tujuan tertentu, sesuai kepentingan negara/lembaga asing pemberi bantuan. Hal ini sudah dikaji mendalam dalam kelas-kelas Lemhanas.
“Sebaiknya kita mempercayakan pada kemampuan diri sendiri untuk mengatasi bencana ini secara bersama-sama, sebagai sarana untuk penguatan Solidaritas Nasional,” ujar Arman di Surabaya, Selasa (9/12/2025).
Semua elemen, termasuk perguruan tinggi seperti ITS, maupun UNS, menurut Arman melakukan penggalangan donasi. Tidak hanya itu, Rektor juga memerintahkan dan mengumpulkan data dan mengontak mahasiswa asal Aceh dan Sumatra yang terdampak.
“Kebijakan diskresi diberikan kepada mereka, dengan membebaskan SPP, bantuan fasilitas belajar, hingga uang saku selama program pemulihan kedepan,” kata Arman.
Dia menilai, cukup banyak mahasiswa daerah yang studi di kampus ITS, sehingga di PTN Unsyah Banda Aceh, banyak sekali pejabat kampusnya yang alumni ITS.
“Dan ini memperkuat kolaborasi antara kampus ITS, IKA ITS pusat, hingga IKA DPW Aceh untuk bergerak cepat. Sebagai catatan, tanggal 9 Desember hingga 14 Desember, gabungan ITS, IKA, dan YMI menuju ke Aceh, menyusul aksi yang dilakukan DPW IKA Aceh yg dimotori Alumni ITS di Kampus UnSyah,” jelas arman.
Semangat kebersamaan ini juga didukung oleh semua kementerian, termasuk dikeluarkannya anggaran darurat dari semua kementrian, termasuk Kemendiktiristek yang sifatnya mitigasi prediktif sejak April/Juni 2025.
“Ada sebanyak empat judul proposal kegiatan dari ITS yang memperoleh pendanaan Program ABMAS Tanggap Darurat Bencana Tahun Anggaran 2025, dengan fokus yang saling terkait dalam pemulihan daerah terdampak banjir dan bencana di Provinsi Aceh,” ungkap Arman.
“Keempat program ini ternyata bisa mendukung percepatan pemulihan sosial, ekonomi, dan infrastruktur dasar masyarakat terdampak, dengan total dana persetujuan sebesar Rp1,594 miliar,” sambungnya.
Fokus Tanggap Bencana
Fokus tanggap bencana tersebut, dipaparkan Arman, ada empat judul yaitu, pertama, pengembangan model penanganan darurat bencana dapur umum higienis dan penguatan ekonomi rumah tangga terdampak.
“Kedua, penyediaan layanan dukungan psikososial dan pertolongan pertama bagi korban bencana. Ketiga, Penerapan instalasi PLTS untuk memulihkan akses energi, keempat, Penerapan sistem RO; dan tenaga surya mobile–stasioner untuk pemulihan air bersih,” papar Arman.
Keempat riset terapan, Arman menuturkan, akan langsung diterapkan ke daerah bencana tanpa menunggu selesai, karena sudah disiapkan oleh Pusat Studi Bencana, beserta tiga pusat studi lainnya,
“Hal ini merupakan langkah Antisipasi/Prediksi DRPM ITS, untuk persiapan mitigasi bencana sejak awal, sehingga modifikasi lapangan dalam bentuk joint risetnya lebih cepat. Bukan mulai awal riset bencana, sementara saat riset jadi bencana sudah selesai,” tuturnya.
“Inilah kekuatan solidaritas nasional, dimana kampus dan TNI/Polri serta masyarakat bergerak bersama-sama untuk berbagi rasa, berbagi harta untuk saudara kita sebangsa yang ditimpa musibah,” tambah Arman.
Dengan berusaha mengatasi secara mandiri melalui arahan Presiden Prabowo, Arman menerangkan, maka semua unsur termasuk kampus dengan kekuatan riset, TNI/polri dengan fasilitas hercules dan SDM lapangan, perusahaan seperti aramco yang punya jembatan portable-nya, influencer seperti Irwandi, maka akan menjadikan kekuatan nasional yang perlu direkam sebagai Knowledge Management System. Untuk pengalaman ini bisa ditulis hingga SOP-nya sebagai warisa keilmuan penanganan bencana mandiri secara nasional.
“Janganlah kita rendah diri dengan kemampuan gotong royong penanganan bencana, dimana belum lakukan apa-apa sudah menyerah ingin bantuan asing,” pesan Arman
“Sekarang ini semua negara lagi susah secara ekonomi, malah aneh bila mereka mau bantu kalau tidak ada kepentingannya yang strategis. Janganlah mengundang singa saat kita lagi melemah,” sambungnya.
Tapi yang penting lagi, Arman menilai, audit lingkungan tetap wajib dilakukan kepada perusahaan-perusahaan yang dianggap sebagai penyebab bencana.
“Harus ada hukuman dan denda, berdasarkan audit ini.Sehingga Solidaritas Nasional yang kita lakukan saat bencana ini menjadi titik point penting dalam perjuangan berbangsa dan bernegara secara lebih ber-etika dalam kerangka ESG, melalui spirit 3 C yakni, Compliant, Compliant, dan Compliant,” pungkasnya. (Arifin/Kominfo)
